Twitter response:

Lampu Lalu Lintas

Lampu lalu lintas, kita pastinya sering menemukan benda ini berdiri di persimpangan jalan. Sekilas kerjanya tampak sederhana, cukup menyalakan lampu merah, kuning, dan hijau secara bergantian dalam rentang waktu tertentu.
Namun apakah kalian tahu bahwa di baliknya terdapat sejarah menarik dan sistem operasional yang rumit?

Sebelum lampu lalu lintas diciptakan, pada awalnya polisi lalu lintas bertugas untuk mengatur arus lalu lintas. Misalnya di London, para polisi harus mengatur lalu lintas antara mobil dengan kereta kuda.
Pada 9 Desember 1868, lampu lalu lintas pertama didirikan di depan Istana Westminster, London. Lampu ini digagas oleh seorang insinyur, J. P. Knight, yang melihat bahwa ada terlalu banyak kereta kuda yang melintas di Jembatan Westminster sehingga mengganggu pejalan kaki. Awalnya berbentuk sinyal semafor dengan dilengkapi lampu gas untuk penggunaan malam hari. Warna yang digunakan juga hanya dua, yaitu merah dan hijau. Pengoperasian lampu lalu lintas ini dilakukan oleh polisi lalu lintas yang bertugas sebagai operator. Namun, lampu lalu lintas ini tidak berusia panjang. Dua bulan sejak pemasangan, lampu tersebut meledak hingga menyebabkan polisi operatornya terluka. Diduga ledakan tersebut disebabkan oleh kebocoran gas bahan bakar.
Lampu lalu lintas dengan tenaga listrik dikembangkan pada tahun 1912 oleh Lester Wire, seorang polisi dari Salt Lake, Utah, Amerika Serikat. Pada saat itu pun, warna yang digunakan hanya merah dan hijau. Penggunaan tiga warna menjadi merah, kuning, dan hijau digagas oleh Garrett Morgan, penemu berkebangsaan Afrika-Amerika yang kemudian mematenkan idenya pada tanggal 20 November 1923. Morgan mendapatkan ide ini setelah menyaksikan kecelakaan antara mobil dan kereta kuda yang disebabkan oleh tidak adanya jeda antara sinyal “Jalan” dan “Berhenti”.

Saat ini pengoperasian lampu lalu lintas telah berkembang menjadi sangat canggih. Pengoperasian tidak lagi dilakukan secara manual oleh manusia, melainkan secara otomatis melalui perangkat computer yang disebut dengan ATCS (Area Traffic Control System). Di Indonesia, setiap kota bisa jadi menggunakan sistem yang berbeda dari kota lainnya. Di Surabaya, pengoperasian dijalankan dengan menggunakan SCATS (Sydney Coordinated Adaptive Traffic System). Secara sederhana, dengan SCATS, kinerja seluruh lampu lalu lintas di kota Surabaya bisa dikendalikan agar dapat saling menyesuaikan satu sama lain, dengan mempertimbangkan arus lalu lintas dalam satu kota.
Para akademisi Indonesia sedang berusaha untuk mengoptimalisasi kinerja lampu lalu lintaas dengan memanfaatkan Logika Fuzzy. Hasil percobaan sejauh ini membuktikan bahwa penggunaan Logika Fuzzy ini sukses untuk mengurangi keterlambatan kendaraan sebesar 48,44% dan panjang antrean kendaraan sebanyak 56,24%.

Wah, ternyata di balik lampu lalu lintas tersebut, ada banyak hal menarik ya.
Pastinya kita semua menyadari bahwa belakangan kemacetan menjadi semakin parah.
Tidakkah kalian ingin mengurangi kemacetan dengan membuat sistem lampu lalu lintas yang lebih efektif?

Leave a comment